Pengalaman pertama dengan ponsel dan kartu CDMA

 

Tanggal 2 April kemarin, saya memutuskan untuk membeli sebuah hape CDMA. Terus terang saya sama sekali belum pernah makai ponsel CDMA ataupun kartu CDMA. Tujuan saya membeli ponsel CDMA hanya untuk dijadikan modem internet saja. Saya langsung menanyakan ke toko ponsel hape CDMA apa yang paling murah yang bisa untuk internatan. Saya kemudian di beri HP baru Nokia 2126i dengan harga Rp450.000,-. Saya ga tau harga ini kemahalan atau ga, yang saya rasa ukuran harga sebuah ponsel CDMA baru pada saat itu memang segitu.

Untuk koneksi saya membeli kabel data DKU-5 dengan harga Rp70.000,- bukan yang ori(istilah pedagang untuk barang asli). Yang ori katanya Rp110.000,- itu pun tanpa kotak atau CD Driver. Untuk kartu CDMA saya memilih kartu starone dari Indosat, karena Indosat memang sudah dikenal di kalangan para netters(tukang ngenet) memberikan layanan tarif internet termurah. Selain itu Indosat juga mempunyai dua model pentarifan, time based atau volume based yang bersifat flexibel. Sehingga seorang netters bisa memilih jenis pentarifan yang diinginkannya sesuai dengan keperluan ngenetnya. (kok jadi promosi ya).

Sebenarnya tujuan saya membeli hape CDMA ini tergiur dengan tarif murah pascabayar starone. Untuk paket 1 GB dikenakan biaya Rp100.000,- per bulan tanpa abonemen jika pemakaian mencapai Rp100.000,- Saya langsung mendatangi galeri Indosat di Jl Khatib Sulaiman Padang (saya sering ke sini dulunya pada bulan maret 2007 untuk Kerja Praktek) . Eh ternyata persyaratan berlangganan pascabayar memang sangat ribet dan merepotkan. Saya karena masih seorang mahasiswa haruslah membawa surat kuasa dari ortu disamping persyaratan kartu KK dan KTP. Padahal ortu jauh di dusun. Setelah dilobi-lobi ga bisa, saya pun terpaksa membeli yang prepaid (prabayar) Jagoan. Dan lucunya ga beli di situ (galeri) yang katanya CDMA nya lagi bermasalah. Saya pun balik ke pasar dan membelinya di sana dan ternyata ga ada malasah.

Malamnya tiba di rumah, saya langsung mencoba untuk berinternet dengan laptop. Hape nokia 2126i itu pun saya jadikan modem setelah menginstal disana-sini. Cara untuk koneksi modem CDMA ini nanti akan saya posting di <a href=”http:/www.infocomnet.blogspot.com”>blog yang lain</a>. Ternyata tidak semulus dugaan saya, kartu CDMA yang saya beli perdana Rp12.000,- ini harus diaktifkan dulu mode internetnya oleh operator. info ini saya peroleh dari operator sendiri. Kata Costumer Service yang saya hubungi, kartu prabayar starone untuk bisa ngenet minimal pulsanya Rp5000,- dengan kualitas sinyal paling dikit 3 bar pada penanda sinyal. Terakhir katanya harus diaktifkan jalur internetnya. wah jadi repot kalo gini, apalagi harus menunggu 1 x 24 jam segala.

Ternyata kesedihannya bukan sampai di sini. Tidak lama kemudian saya mencoba mengakses menu mystarone pada ponsel. Entah apa yang saya pencet (kalo ga salah menu pilihan my number) tiba-tiba di ponsel saya muncul tulisan UIM card rejected. Menu-menu ponsel seperti hilang semuanya ga bisa diakses, yang ada hanya bacaan UIM card rejected dan menelpon 911 untuk panggilan darurat. Saya pun langsung panas dingin, apa yang terjadi? Solusi awal saya coba mematikan dan mencabut kartu, tapi tetap nihil. Dengan menggunakan operamini pada hape yang lain, saya mencari informasi di internet tentang problem UIM card rejected.

Dari yang saya baca, mulai ada titik terang. bisa jadi kartunya yang kena reject atau ponselnya yang rusak. Saya mulai berpikiran ponsel yang saya beli rusak karena mungkin membeli barang aspal (asli atau palsu). Solusi pertama saya harus mengganti kartu ponsel saya dengan kartu CDMA yang lain. Karena hari sudag malam, saya pun memutuskan untuk membelinya esok paginya. Dan saya pun tertidur dengan seribu macam pikiran, haripun sudah jam setengah 2. Rencana mau nonton <a href=”www.chelseafcfansclub.blogspot.com”>liga champion Arsenal vs Liverpool </a>terpaksa dibatalkan akibat kantuk dan letih yang luar biasa.

Paginya ada teman yang make kartu Flexi yang datang ke kosan. saya langsung mencoba menggantinya. Alhamdulillah ternyata bisa masuk di ponsel saya. Berarti sekarang masalahnya bukan pada ponsel CDMA baru saya, saya pun sedikit lega. Siangnya saya terpaksa membeli kartu starone perdana baru lagi di dekat tempat tinggal saya walau harganya cukup mahal Rp15.000,-. Ternyata memang bisa dipakai pada ponsel saya, wah untung kata saya (orang Indonesia selalu bersikap mengambil untung (manfaat/hikmah)nya saja padahal merugi). Malamnya saya menelpon kembali CS Starone di nomor 111 untuk mengaktifkan internetnya. Saya juga menanyakan permasalahan nomor saya yang kena reject, katanya bisa diganti gratis dengan datang ke galeri Indosat terdekat. Wah, saya pun jadi mikir ongkos pp naek angkot (maklum anak kost) ke galeri 6000 perak untuk pulsa Rp10.000,- ah nanti saja kalo ada urusan yang lain sekalian.

Akhirnya saya harus menunggu 1 x 24 jam lagi untuk bisa internetan di kosan dengan kartu CDMA

Postingan dengan judul Pengalaman pertama dengan ponsel dan kartu CDMA ditulis oleh ridho, Penulis dapat dihubungi lewat akun sosial media berikut

Follow on Twitter

Connect on Facebook

Find on Google+

Find on LinkedIn

One Response to “Pengalaman pertama dengan ponsel dan kartu CDMA”

  1. […] dijadikan modem internet. Baca sekelumit tentang pengalaman pertama saya menggunakan ponsel CDMA di sini. Untuk koneksi internet dengan PC atau laptop diperlukan hape CDMA lengkap dengan kabel datanya. […]

Leave a Reply